IMAN YANG
MENYELAMATKAN
“Jadi apakah akan kita katakan tentang
Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena
perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan
Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada
Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau
ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi
sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada
Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran”
(Romans 4:1-5).
- SESUNGGUHNYA MANUSIA TIDAK DAPAT DISELAMATKAN OLEH KEBENARANNYA SENDIRI
Namun, Rasul Paulus
berbicara dengan terus terang kepada mereka bahwa manusia tidak dapat diselamatkan dengan semua
itu, ada cara lain agar manusia dapat diselamatkan, karena tak seorangpun dapat
dibenarkan di hadapan Allah dengan kesucian dan perbuatan baiknya sendiri,
karena sesunggugnya manusia tidak dapat mencapai kesucian dan kebajikan menurut
standard Tuhan. Untuk mengilustrasikan kebenaran ini Paulus memberikan contoh
tokoh besar dalam Alkitab yang ia kenal, yaitu Abraham, sahabat Allah, bapa
dari semua orang beriman, dan bapa dari bangsa Israel.
Dan Paulus menulis,
“Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar
untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah,” karena Allah mengenal dia. Abraham dapat menyombongkan diri di hadapan
kita. Ia dapat menyombongkan diri di hadapan teman-temannya dan semua orang
yang ia kenal, namun ia tidak dapat menyombongkan diri di hadapan Allah. Allah
mengenal betul kehidupannya secara intim. Lihatlah bahkan perbuatan baik dari
orang kudus terbesar ini pun tidak dapat membuatnya berkenan di hadapan Allah,
sehingga berdasarkan itu Allah harus menyelamatkannya.
Sebagai contoh dalam
Kejadian 12 diceritakan tentang Abraham ketika ia berbohong kepada Firaun
berhubungan dengan Sara, istrinya. Empat pasal berikutnya, dalam kejadian 16
diceritakan bahwa Abraham menikahi Hagar, budaknya yang dibawa dari Mesir. Dan
dari hubungan ini melahirkan Ismael, pendiri dari bangsa- bangsa Arab.
Kemudian, empat pasal berikutnya diceritakan kisah tentang Abraham yang
berbohong lagi kepada Abimelekh berhubungan dengan Sara, istrinya. Jika Abraham
dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya, ia dapat memuliakan dirinya sendiri dan
membual: “Lihatlah aku. Aku yang telah melakukan semuanya ini.” Namun, Paulus
berkata, “Tidak di hadapan Allah.” Allah mengenal Abraham dengan baik. Ia
mengetahui semua kelemahan dan pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan
serta semua kegagalan hidupnya. Perhatikan, bahkan Abraham, tokoh terbesar ini
pun tidak dapat berkenan di hadapan Allah dengan usahanya sendiri.
Oleh sebab itu Rasul
Paulus berbicara dengan terus terang bahwa harus ada jalan lain agar manusia
dapat diselamatkan. Dan ia menemukan jawaban bagaimana Abraham diselamatkan.
Dalam Kejadian 15:6 dikatakan, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan
hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ia diselamatkan di dalam anugerah dan
rahmat Tuhan. Ia diselamatkan oleh karena ia percaya kepada Tuhan.
2. KESELAMATAN HANYA OLEH KARENA IMAN DI DALAM KRISTUS
Seperti Rasul Paulus
menuliskan ini dalam Roma pasal empat, “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak
bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia
memuliakan Allah” (Roma 4:20) – ia tidak memuliakan dirinya sendiri, tetapi ia
memuliakan Allah, dan tanpa bimbang ia mempercayai apa yang Allah telah
janjikan kepadanya, dan malah ia diperkuat dalam imannya, dan oleh imannya itu,
kebenaran diimputasikan kepadanya. Kebenaran yang ia kenakan bukanlah
kebenarannya sendiri, bukan kebenaran yang ia usahakan sendiri, tetapi itu
adalah kebenaran Allah yang diimputasikan atau dikenakan kepadanya oleh karena
imannya: yaitu bahwa dia diselamatkan oleh iman, oleh karena percaya. Dan
imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, dan dia diselamatkan di dalam
anugerah dan pengampunan Allah.
Demikian juga Rasul
Paulus berkata terus terang kepada kita. Kita tidak dapat diselamatkan dengan
usaha kita sendiri atau membayar hutang dengan perbuatan-perbuatan kebajikan
dan kebenaran kita sendiri, karena sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat
memenuhi standard kebajikan dan kebenaran yang dituntut oleh Tuhan. Kita
bukanlah orang suci, bukanlah orang baik, bukanlah orang benar.
Tuhan menuntut
kesempurnaan jika kita mau masuk ke kota suci nan indah, yaitu sorga dan
memandang wajah-Nya. Namun, jika kita pernah melakukan pelanggaran dan dosa di
suatu waktu dalam hidup kita, kita sudah kehilangan kesempurnaan itu. Yakobus,
saudara Tuhan Yesus, yang menjadi gembala di Yerusalem menuliskan itu di dalam
suratnya, yaitu Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu,
tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”
Ia telah bersalah terhadap seluruhnya, artinya ia kehilangan dan tidak akan
mencapai kesempurnaannya.
Ini sama seperti lampu
atau kandil yang digantung pada rantai. Anda tidak perlu memutuskan setiap mata
rantai. Jika Anda memutuskan salah satu mata rantai saja, maka lampu itu akan
jatuh dan hancur. Demikian juga dengan hidup kita. Kita dapat hidup benar dan
suci dalam setiap area hidup kita, namun jika kita berdosa, kita telah berada
di bawah penghukuman maut: “Jiwa yang berdosa pastilah mati,” dan “upah dosa
adalah maut.” Rasul ini berkata terus terang bahwa tak seorangpun yang dapat
dibenarkan – diperhitungkan benar, dapat diselamatkan dengan pencapaian
pekerjaan atau perbuatan kebajikannya sendiri.
Ada orang yang sangat
kuat di kota ini. Ia mampu menghancurkan hidup orang lain berkeping-keping.
Saya pergi menemui dia
dan mengundang dia untuk memberi diri dilahirbarukan di dalam Kristus Tuhan
kita, dan menemukan kekuatan di dalam Dia.
Ia menjawab saya, “Saya
dapat menolong diri saya sendiri. Saya tidak perlu Tuhan, dan saya tidak
membutuhkan Kristus, dan saya tidak membutuhkan gereja. Saya akan menemukan
jawaban di dalam diri saya sendiri.” Akhirnya, ia menyerahkan dirinya sendiri
untuk minuman keras, dan akhirnya ia mati bunuh diri.
Tak seorangpun,
sekalipun ia mungkin orang yang kuat, yang mampu menghadapi penghakiman. Apa
yang ia dapat lakukan pada hari kematiannya? Dan apa yang ia dapat lakukan
ketika ia berdiri di depan tahta pengadilan Allah yang Mahatinggi? Seperti Yesaya berkata, bahwa kebenaran kita
adalah “seperti kain kotor” atau “kain lap yang dekil” dalam pemandangan Allah
(Yesaya 64:6).
Harus ada cara lain
agar kita dapat diselamatkan, dan cara atau jalan keselamatan itu dapat kita
atau Abraham temukan melalui percaya kepada Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan. Ia
menghempaskan dirinya sendiri ke atas rahmat Allah, dan Allah menyelamatkan dia
oleh anugerah, oleh karena iman, oleh karena percaya.
Allah memperhitungkan
imannya sebagai kekudusan, kebenaran, dan oleh anugerah kita semua diselamatkan
melalui iman dan bukan kebenaran atau usaha kita sendiri. Itu adalah karunia
atau pemberian Allah, bukan hasil pekerjaan kita, sehingga tak seorangpun dapat
berkata atau membual, “Aku telah melakukan semua itu” dan memuliakan dirinya
sendiri.
Dan Rasul Paulus
menulis bahwa pengampunan, rahmat itu, anugerah itu ditemukan dan didasarkan
dalam kasih dan rahmat penebusan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia menulis dalam Roma
pasal 5:
Karena waktu kita masih
lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang
ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang
benar—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati—. Akan
tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati
untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah
dibenarkan oleh darah-Nya…(Roma 5:6-9)
Di dalam rahmat dan
kematian serta penderitaan Tuhan kita, kita akan diselamatkan melalui Dia, kita
diperdamaikan dengan Allah melalui kematian-Nya, kita diselamatkan oleh
hidup-Nya yang telah bangkit dari antara orang mati dan pelayanan-Nya sebagai
perantara untuk kita dalam kemuliaan. Oleh
Dia kita sekarang telah menerima penebusan atas dosa-dosa kita. Bukan lagi
“aku.” Tetapi “Dia.” Bukan karena kekuatanku, tetapi di dalam Dia aku
diselamatkan melalui percaya, menyerahkan hidupku kepada Dia, menerima dan
memandang Dia. Kita diselamatkan oleh karena apa yang Yesus telah lakukan bagi
kita!
Paulus menulis surat
polemik kepada jemaat-jemaat di Galatia. Mereka telah menemukan keselamatan
melalui percaya di dalam Kristus. Mereka telah menerima Roh Kudus, melalui
percaya di dalam Yesus. Dan mereka telah hidup dalam hadirat Anak Allah. Kemudian datanglah orang-orang Yahudi yang
berkata kepada mereka, “Baiklah oleh iman. Baiklah oleh karena percaya. Namun
kalian tidak dapat diselamatkan hanya oleh iman dan percaya itu. Jika kalian
ingin diselamatkan, kalian dapat diselamatkan melalui memelihara dan melakukan
hukum Taurat, melaksanakan berbagai aturan, ritual dan seremonial dari Taurat.”
Oleh karena itu lah,
maka Paulus menulis surat yang polemik ini kepada orang-orang Galatia itu. Itu
adalah surat yang sangat keras. Dan
dengan hanya satu hentakan saja, Rasul Paulus menyapu semua konsep keselamatan
yang diduga merupakan hasil dari ketaatan terhadap Taurat atau legalism atau
oleh usaha manusia atau oleh karena memelihara upacara-upacara lahiriah atau
seremonial lahiriah. Jika manusia diselamatkan, itu hanya oleh karena kasih dan
anugerah serta rahmat Yesus Kristus “yang mengasihi saya dan memberikan nyawa-
Nya sendiri sebagai tebusan bagi saya.”
Ketika saya membaca
Kitab Suci, ada banyak bukti dalam lembaran-lembaran suci ini ketika saya
mempelajari dan berusaha memahami pikiran dan rencana Allah bagi kita. Manusia
dapat berdoa dan berdoa di sepanjang hidupnya. Namun ketika ia mati, ia masih
terhilang. Dalam Matius enam, catatan tentang Khotbah di Bukit, Tuhan mendeskripsikan
orang-orang seperti orang Farisi yang suka berdiri di sudut-sudut jalan dan
semua orang melihat mereka sedang berdoa. Dan dalam Injil yang sama ini,
Tuhan kita mendeskripsikan orang-orang
Farisi yang masuk ke dalam rumah ibadat kemudian berdoa dan mengucap syukur
kepada Allah atas semua ketaatannya terhadap semua perintah Allah dalam
hidupnya. Dan pada saat yang sama Tuhan juga menceritakan seorang pemungut
cukai, orang berdosa, yang pada waktu itu juga sedang berdoa, yang bahkan tidak
berani mengangkat wajahnya kepada Allah, namun ia memukul-mukul dadanya dan
berkata, ‘Tuhan, ampunilah aku, orang berdosa ini.”
Dan Tuhan berkata,
“Orang ini – pemungut cukai yang berdosa ini, pulang ke rumahnya dengan membawa
pembenaran – ia dipandang benar oleh Allah, karena ia menyerahkan jiwanya di
dalam iman dan percaya kepada Tuhan yang dapat menyelamatkan dia.”
Ambilah Alkitab anda
dan mari lihat orang-orang baik yang menghadap Tuhan dan rasul-rasul-Nya.
Nikodemus adalah orang baik. Ia adalah anggota dari Sanhedrin. Ia adalah
pemimpin bangsa Yahudi. Namun Tuhan berkata kepada dia, “Jika kamu tidak
dilahirkan kembali, kamu tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.”
Kisah Rasul pasal
sepuluh menggambarkan Kornelius sebagai orang yang saleh dan takut akan Tuhan dan
senantiasa berdoa kepada Allah. Namun seorang malaikat datang kepadanya dan
berkata, “Suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama
Simon dan yang disebut Petrus. Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit
yang bernama Simon,” untuk menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya dapat
diselamatkan.
Saya tidak dapat
diselamatkan oleh karena kebenaran dan kebajikan saya sendiri. Saya begitu
kecil dan kotor di hadapan kemuliaan Allah. Saya harus menghempaskan diri saya
sendiri ke atas rahmat Yesus. Dan hanya oleh Dia, hanya Dia sajalah yang dapat
memperbaharui dan mengampuni serta menyelamatkan saya.
3. TIDAK ADA CARA
LAIN UNTUK DAPAT DISELAMATKAN SELAIN
HANYA MELALUI IMAN DI DALAM KRISTUS
Paulus berbicara dengan
terus terang bahwa selain percaya kepada Yesus tidak ada apapun yang dapat kita
lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan kebenaran saya
sendiri atau perbuatan baik yang saya lakukan. Saya tidak diselamatkan oleh
Yesus ditambah dengan seremonial-seremonial atau ibadah yang saya pelihara dan
jalankan. Saya tidak diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan baptisan saya,
atau percaya Yesus ditambah dengan memelihara hari Sabat, atau saya tidak
diselamatkan oleh Yesus ditambah dengan tangisan dan penyesalan saya. Saya tidak
diselamatkan oleh apapun kecuali hanya oleh Yesus saja – hanya oleh Yesus,
Yesus secara eksklusif, Yesus untuk selama-lamanya, Yesus satu-satunya.
Dan ketika saya berdiri
di hadapan Yang Mahatinggi di sorga, inilah lagu yang akan saya nyanyikan,
“Segala kemuliaan hanya bagi Anak Domba. Segala kemuliaan hanya bagi Kristus
yang telah menyucikan kita dari dosa-dosa kita di dalam darah-Nya sendiri. Bagi
Dia kemuliaan dan hormat dan kuasa sampai selama- lamanya dan selama-lamanya.
Amin.”
Tuhan Yesus Memberkati 🙏
Tuhan Yesus Memberkati 🙏
No comments:
Post a Comment