Friday, August 9, 2019

Marthen Luther evangelistic association: KESAKSIAN DUKUN X AFRIKA

Marthen Luther evangelistic association: KESAKSIAN DUKUN X AFRIKA: Kesaksian seorang mantan dukun Afrika yang sejak kecil sudah ditargetkan menjadi hamba kuasa kegelapan. Kemudian menimba ilmu hitam la...

Thursday, August 8, 2019

Rangkuman Diktat Nabi-Nabi Besar Dan Nabi-Nabi Kecil


Ø  Nabi-nabi besar antara lain : Yesaya , Yeremia, (menulis kitab Yeremia dan Ratapan), Yehezkiel, dan Daniel.
Ø  Nabi-nabi kecil antara lain : Hosea, Yoel, Amos, obaja, yunus, Mikha, nahum, habakuk, zefanya, hagai, zakharia, dan maleakhi. Beberapa di antara nabi-nabi hidup pada zaman yang sama, contohnya Hosea,Amos, dan Mikha sezaman dengan Yesaya  
NABI-NABI BESAR

                                 I.     YESAYA
Nabi Yesaya adalah salah satu abdi Allah yang memulai pelayanannya pada     tahun 740 sM – 681 sM. Nabi Yesaya mati 100 tahun sebelum pembuangan orang Yehuda ke Babel terjadi. Dalam pelayana-Nya ia berbicara mengenai pemulihan Tuhan atas segalah sesuatu yang diciptakan.
Yesaya tak hanya memanggil yehuda untuk kembali pada perjanjian Daud ( II Samuel 7), tetapi juga kembali ke tujuan awal dari perjanjian Abraham (Kej, 12:1-3), Yaitu Allah memilih Israel untuk dunia (Kel.19:5-6). Berita yesaya menyatakan pemerintahan universal Yahweh, bahwa Allah tidak hanya akan mengembalikan orang Israel, tetapi akan memperluas rencana penebusan Allah ke seluruh dunia melalui pemulihan kerajaan Daud oleh Mesias.

                         II.            Yeremia
            Yeremia adalah seorang Lewi. Ia berasal dari Anatot di tanah Benyamin, ayahnya bernama Hilkia, seorang Imam, Yeremia merasa lemah dan tidak mampu melayani, Yer 1:6 “Ah, Tuhan Allah! sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini sangat muda.” Yeremia terbuka dengan perasaannnya, Yer 4:19 “Aduh, dadaku! Jantungku berdebar.” Yeremia seorang yang lemah lembut dan peka (Yer, 8:18;9:1;20:14-18). Yeremia pun mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas ;
Ø  Ada kelompotan untuk membunuh Yeremia (Yer, 11:18)
Ø  Yeremia dilemparkan ke dalam penjara oleh pasyur, oleh seorang imam (Yer, 20:3)
Ø  Pangeran-pangeran Yehuda berkomplot untuk membunuhnya (Yer, 26:10)
Ø  Yeria melempar Yeremia ke dalam penjara (Yer, 37:14)
Ø  Yeremia dilemparkan ke dalam perigi/sumur yang berlumpur (Yer,38:6).
Tugas utama dalam pelayanan Nabi yeremia yaitu memberitakan tentang hukuman bagi bangsa yang tidak bertobat. inilah berita penghakiman yang disampaikanTuhan kepada Kerajaan Yehuda & Yerusalem :
Ø  Hukuman karena mengabaikan Allah
Ø  Hukuman karena Ibadah yang menyimpang
Ø  Hukuman karena melanggar Perjanjian
Ø  Firman Tuhan di masa kekeringan
Ø  Tujuan penghakiman
Ø  Perumpamaan Yeremia
Ø  Penghakiman atas pemimpin rohani dan pemerintah
Baik Yesaya maupun Yeremia banyak bercerita tentang pembuangan umat Allah dan kembalinya mereka ke Israel. Tetapi tidak semua nubuatan digenapi saat kepulangan mereka dari pembuangan di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia.
                      III.            Yehezkiel
Yehezkiel adalah seorang Imam, anak Busi, dari bani zadok  (Yeh,1:3;40:46;44:15). Yehezkiel tinggal di Yehuda sampai umur 25 tahun. Pada masa remajanya ia dipengaruhi oleh pembaruan raja Yosia dan Nubuatan Yeremia. Yehezkiel  di panggi menjadi nabik ketika ia berumur 30 tahun dan tinggal di babel bersama-sama dengan para buangan lainnya (Yeh,1:1). Yehezkiel di tugaskan menjadi penjaga/gembala atas orang-orang buangan (pasal 2:3). Jadi 3 diemban Yehezkiel yakni sebagai Imam, nabi dan gembala.
Bagian utama dalam pemberitaan Yehezkiel yaitu :
Ø  Yehezkiel berbicara mengenai malapetaka atau penghakiman
Ø  Disampaikan sebelum kejatuhan Yerusalem, berisi nubuat malapetaka atas Yehuda dan Ibukotanya Yerusalem. (Yeh,1-24).
Ø  Disampaikan setelah kejatuhan (Yeh, 25-32)
Ø  Yehezkiel berbicara juga mengenai pengharapan (pemulihan)

                      IV.            Daniel
Nabi daniel melayani di babel. Tahun 605 sM Daniel sudah ada di Babel. Dia masih hidup saat tahun 538 sM Israel dipulangkan dari Babel, hanya saja Daniel  tua untuk ikut dalam pemulangan tersebut. Karena diperkirakan Daniel men ulis kitab ini tahun 530 sM , maka masa pelayanan Daniel kira-kira 70 tahun atau lebih.
Tema utama dikatakan dalam Daniel 4:17 “ Supaya orang-orang yang hidup tahu, bahwa yang maha berkuasa atas kerjaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang menghendaki-Nya.” Tuhan Allah berdaulat atas raja-raja dan melakukan apa yang Dia kehendaki.
            Nabi Daniel diangkut ke Babel pada pembangan pertama yang terjadi tahun 605 sM. Daniel melayni dibawah Nebukadnezar (Babel), (Ewil- Merodakh (Babel), Neriglisar (Babel), Labasi-Marduk (Babel), Nabonidus (Babel), Balyazar (Babel), dan Koresy (persia).   
Mengenai akhir zaman  kitab Daniel merupakan kitab nubuatan, dalam bentuk lain dari pada yang lain, berisi gambar-gambar dan lambang, kitab itu terutama berkenaan dengan akhir  yang aman. Dalam hal ini serupa dengan wahyu, tetapi harus juga dibandingkan dengan Markus 13, Matius24 dan Lukas 21. Ada orang yang menertawakan nubuatan dan menolak pendapat mengenai Wahyu, akhir zaman yang penuh bencana. Segala sesuatu berjalan seperti sedia kala (2 Pet, 3:1-13). Ada pula yang ingin tahu lebih banyak dari pada yang diperbolehkan, dan mencoba untuk menentukan waktu yang tepat kapan akhir zaman itu akan tiba.
            Dalam keseluruhan kitab kita merasa kehadiran Allah bersama umatnya, berbagi rencana dengan mereka. Itu yang menjadi pelajaran yang harus diajarkan oleh Musa kepada orang buangan mesir. Mereka telah mendarita dan telah pula berdoa, tetapi Allah tidak menyelamatkan mereka. Allah berkata kepada Musa : “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsarahan umat-Ku di tanah mesir, da aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengarah-pengarah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Allah telah turun untuk melepaskan mereka..” (Keluaran 3:7-8).
Pengetahuan Allah yang sempurna mengenai hari depan (Dan 9 :20-27)
a.      Pengantar wahyu (Dan 9:20-23)
Daniel sedang berdoa; tidak meminta sesuatu atau ingin mengetahui masa depan; tetapi ia mengakui segala kesalahannya; meluruskan hubungannya dengan Allah. adalah hak Allah apakah Dia mau memberitahukan apa yang terjadi di masa depan ataukah tidak. Waspada terhadap tanda-tanda zaman itu perlu, tetapi kita tak perlu mereka-reka atau mengira-ngira kapan Kristus datang. Tus kita adalah memelihara hubungan dengn Allah.
(9:24)

PERMULAAI GEREJA PADA ZAMAN PORTUGIS



Permulaan Gereja Pada Zaman Portugis

                                       Permulaan abad 16 merupakan waktu peralihan dalam segala segi. Ciri khas keadaan di Indonesia pada abad ke-15 dan ke-16 adalah perubahan-perubahan yang besar di bidang politik kerajaan majapahit yang dalam puncak kebesarannya telah menanam pengaruhnya hingga melewati batas-batas wilayah Indonesia sekarang
                                       Injil sejak abad pertama memasuki Asia. Gereja Mar-Thoma di india selatan mengatakan bahwa terjadinya gereja itu ialah karena pemberitaan injil oleh rasul Thomas.

Gereja di Indonesia pada zaman VOC 1605-1799

Pemerintah VOC dan Gereja Kristen.
                                       Perubahan yang hebat di politik dan ekonomi pada abad ke-17 telah menentukan untuk berabad-abad lamanya arah yang akan ditempuh oleh perahu Gereja Kristus di Indonesia. Belanda mengubah kekristenan pada waktu itu. Jika masa pemerintahan Portugis Gereja Indonesia merupakan sebagian dari Gereja RK sedunia, maka Belanda datang dan mengubahnya menyadi Gereja kalvinis.

Keadaan Gereja
¢  Kedudukan serta lapangan pekerjaan tenaga-tenaga ini dibagi serta ditentukan menerut kebijaksanaan gubernur.
¢  Dilapangan usaha pekabaran injil maka gereja protestan sedikit sekali menunjukan kegiatan-kegiatan serta rasa tanggung jawab, salah satu sebabnya ialah taraf rohani Gereja yang amat rendah.


Gereja Protestan Indonesia “Indiskhe  Kerk” sebagai pengganti Gereja VOC

       Masa ini terjadi peralihan dari masa VOC ke masa Inggris. Satu-satunya  perubahan adalah kebebasan agama yang di umumkan menggantikan kedudukan Monopoli dari gereja VOC.  Hingga kemudian diijinkannya membangun gereja di samping gereja VOC yang kemudian memperkerjakan padri-padri ,tetapi hal itu di bawah ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti halnya gereja Protestan.

¢  Kemudian Inggris mengutus  seorang  penginjil pertama yaitu NZG. Dan terjadi penyebaran agama oleh penginjil-penginjil. Perkembangan rohani ketika itu mulai nampak di gereja Protestan.
¢  Kemudian gereja sekarang dijadikan sebagai suatu jabatan di pemerintahan karena dari pemerintah telah dimungkinkan untuk mengorganisir kegiatan rohani dari umat kristen Protestan dari bangsa Eropa maupun Indonesia itu sendiri

Gereja Protestan di Indonesia Timur

¢  Penetapan raja dan tata gerja tahun 1844 untuk GPI, orang kristen di Indonesia timur yang banyak jumlahnya tidak disebut. Muncullah nedherlands zendelingenootskhap (NZG).
¢  Tetepi terjadi perdebatan antara NZG dengan pemerintah pada tahun 1854 yang memperdebatkan tentang gaji orang orang NZG yang kecil.



Gereja Protestan Sejak Tahun Pemisahannya dari Negara

¢  Pada tahun 1935, sejak pemisahannya dari negara, GPI semakin berkembang. Dan pada tahun 1936 dan 1939 muncullah synode yang membicarakan mengenai peraturan hidup gereja dan usaha pekabaran injil.
¢  Atas permintaan golongan Protestan Indonesia, hubungan gereja tetap dipertahankan tanpa mempedulikan perbedaan-perbedaan bahasa dan bangsa dengan dibentuknya seksi –seksi untuk kedua golongan bahasa yang bisa mewujudkan “keesaan gereja”.




















Gereja-gereja di Maluku dan Irian Barat 
Gereja Protestan Maluku
1.   Sejarah GPM sampai 1864
a.            GPM mempunyai sejarah yang paling lama di Indonesia. Sejarahnya itu dapat kita bagi sebagai berikut:
± 1540-1605
Usaha Misi RK Portugis serta pengkristenan yang pertama
± 1605-1815
Gereja di Maluku dibawah pemeliharaan Gereja VOC sampai 1800 - dan dyangka pendek yang berikutnya dibawah pemeliharaan Pekabaran Injil dari pihak Inggris (1814- 1817).
± 1815-1864
Hidupnya kembali Gereja di Maluku oleh usaha Pekabaran Injil NZG dalam kerjasama dengan Gereja Protestan.
± 1864-1935
Gereja di Maluku dibawah pimpinan Gereja Protestan serta perkembangan Gereja itu.


b.   Sejak 1935 GPM selaku Gereja yang berdiri sendiri.
        Sejak tahun 1801 hampir tidak terdapat seorang pendeta Belanda di Ambon sampai tibanya J. Kam pada tahun 1816. Hanya pada tahun 1808 untuk dua bulan lamanya dilakukan pemeliharaan rohani oleh pendeta van den Broek, yang meninggal disitu tidak berapa lama kemudian. Demikian merosotnya kekristenan pada waktu itu sehingga pada tahun 1809 gedung Gereja Ambon pun mau dijadikan sebuah gudang. Keadaan yang sangat menyedihkan itu berlaku juga di-jemaat-jemaat yang lain. Di Saparua misalnya terdapat lowongan pendeta sejak tahun 1801 dan baru pada tahun 1807 dan 1809 terjadilah kunjungan pendeta sejak tahun 1796 sampai 1819, Banda dari 1800 sampai 1820. Memang ada beberapa guru sekolah yang memimpin kebaktian-kebaktian dengan membacakan khotbah-khotbah serta doa-doa menurut kebiasaan Gereja VOC.
c.            Pada waktu pemerintahan Inggris yang pendek itu (1811-1815) masuklah para pekabar Injil Inggris yang pertama di Indonesia. Juga ke Ambon diutus seorang, yaitu Jabez Carey, anak William Carey, perintis pekabaran Injil yang ternama di India. Pergaulannya dengan orang-orang Ambon demikian baiknya sehingga dengan sangat sedih hati disertai tangisan mereka berpisah dari padanya ketika ia terpaksa meninggalkan Ambon pada tahun 1817.
d.           Akan tetapi pada tahun 1816 tibalah seorang pekabar Injil yaitu J. Kam yang kemudian mendapat gelar "Rasul Maluku", Sesudah pendidikannya beberapa tahun lamanya iapun diutus ke Indonesia ber-sama-sama dengan dua orang pekabar Injil dari Jerman, yaitu Supper dan Bruckner, pada tahun 1814. Berhubung dengan keadaan politik pada waktu itu maka mereka diutus dengan perantaraan "Perhimpunan Pekabaran Injil dari London". Baru pada tahun 1815 tibalah mereka di Jakarta. Disitu ketiga orang ini "disita" oleh Gereja Protestan yang pada waktu itu amat kekurangan tenaga-tenaga. Kam ditempatkan di Ambon untuk memelihara Gereja didaerah itu. Pada tahun 1816 tibalah ia di Ambon. Ketika ia melalui Surabaja ia menghidupkan disitu segolongan orang-orang Kristen yang mempunyai arti bagi permulaan Gereja Jawa Timur dikemudian hari.
e.            Ada kesulitan sedikit dalam bentuk pekerjaan Gerejani di Indonesia Timur pada waktu itu. Pada satu pihak hampir segala pekerjaan itu dilakukan oleh para pekabar Injil NZG. Pun NZG memberi banyak sokongan secara materi, misalnya buku-buku dsb-nya, bagi usaha itu. Pada pihak lain Gereja Protestanlah yang memelihara Gereja Kristen di Indonesia Timur. Gereja itu menempatkan Kam di Ambon serta memberikan hak kepadanya untuk memimpin pekerjaan Gerejani di wilayah itu. Gerejalah pula yang membiayai para pekabar Injil, andaikata mereka dipinjamkan oleh NZG kepadanya. Lambat laun Gereja ingin menempatkan pendeta-pendetanya sendiri disitu. Sejak tahun 1835 sejumlah pendeta Belanda dipindahkan ke Ambon untuk melakukan usaha-usaha Gerejani disitu akan tetapi diantara mereka itu tidak terdapat lagi seorang seperti Kam. Sama seperti pada waktu VOC maka mereka lebih memperhatikan jemaat Belanda daripada orang-orang Kristen Ambon, yang ribuan jumlahnya itu. Memang tidak ada sedikitpun pergaulan dengan masyarakat, ter-lebih-lebih oleh karena seorang demi seorang mereka meninggal di Ambon dalam waktu yang singkat. Lagi pula masih ada beberapa pekabar Injil NZG disitu yang mengerjakan jemaat-jemaat di Ambon dan dikepulauan Lease. Mereka berusaha melakukan pekerjaannya baik secara rohani maupun secara materiil. Salah satu usaha yang sangat bermanfaat ialah sekolah guru yang didirikan oleh Roskott pada tahun 1836 di Batu Merah, letaknya diteluk Ambon. Roskott bermaksud mendidik guru-guru untuk sekolah-sekolah Kristen yang disamping itu dapat memimpin jemaat-jemaat kecil. Makin lama makin banyak hasil sekolah guru itu untuk seluruh kepulauan Maluku. Kira-kira 100 guru dihasilkannya untuk 80 sekolah rakyat. Bahkan pemerintah menghargai pekerjaan Roskott demikian rupa, sehingga ia diangkat menjadi Inspektur sekolah-sekolah pada tahun 1851.

2.   Dari 1864 sampai 1935
a.             Dengan terhentinya kerjasama NZG dan Gereja Protestan maka berkembanglah organisasi Gereja Protestan diseluruh daerah itu. Makin lama makin tegaslah batas-batas daerah yang diliputi oleh Gereja Maluku, daerah-daerah Gereja Minahasa dan Timor kemudiannya. Hanyalah mengenai kepulauan dibarat daja, yaitu Leti, Moa, Kisar, Wetar belum ada keputusan, apakah itu termasuk daerah Maluku atau daerah Timor. Baru pada tahun 1936 ditetapkan oleh karena perhubungan yang lebih lancar bahwa pulau-pulau itu terikat didalam Gereja Maluku. Jemaat-Jemaat Gereja itu terletak terutama dipulau Ambon bagian Laitimur, sedangkan bagian Hitu sudah diislamkan sebelum zaman VOC. Jemaat-jemaat yang lain terdapat pula dikepulauan Lease ialah Haruku, Nusalaut dan Saparua. Disebelah Utara termasuk pula Ternate, yang diduduki oleh seorang pendeta pembantu yang mengawasi jemaat-jemaat Bacan dan Tidore. Dipulau Seram ada juga dua jemaat, di Amahai dan di Kamarian (Piru). Juga dipulau Buru bagian utara terdapat jemaat Kajeli yang termasuk Gereja Maluku pada waktu itu. Akhirnya harus dicatat pula jemaat yang ada di Bandaneira. Pada akhir abad ke-19 menjadi lebih luaslah daerah Gereja Maluku. Ber-angsur-angsur beberapa kepulauan sebelah tenggara dan selatan dikerjakan untuk pertama kali. Mengherankan bahwa suatu Gereja yang paling tua, yang sudah bersejarah ber-abad-abad lamanya, tidak sanggup untuk melakukan pekabaran Injil didaerahnya sendiri. Memang kira-kira pada tahun 1635 pulau-pulau Aru dikunjungi oleh seorang pendeta VOC, juga dapat diduga bahwa dikepulauan Tanimbar terdapat sisa-sisa kekristenan dari zaman VOC. Akan tetapi orang-orang Kristen disitu diabaikan saja, sehingga Kam yang mengunjungi kepulauan itu kira-kira pada tahun 1819 tidak menemukan seorang Kristen lagi disitu. Usaha pekabaran Injil yang mulai pada akhir abad itu disebabkan oleh dua alasan, pertama bahwa baru pada bagian kedua abad ke-19 pemerintah memberikan perhatian kepada kepulauan itu. Hal itu berhubung dengan perobahan politiknya diseluruh wilayah Indonesia. Dan memang, bilamana pemerintah membuka tanah, maka Gerejapun lantas mengikutinya. Alasan kedua jakni perhatian yang dicurahkan oleh pihak RK kepada kepulauan tersebut mulai tahun 1880. Sesudah RK mengusahakan misi disitu, barulah Gereja Protestan bertindak juga. Pulau Tanimbar misalnya sudah dikunjungi oleh Kam pada tahun 1825, tetapi baru pada tahun 1882 pekerjaan dapat dimulai disitu. Demikian pula halnya dipulau Kai, tempat markas RK memulai pada tahun 1890 sedangkan Gereja Protestan memulai usahanya pada tahun 1900. Pada bagian pertama abad ini hampir selesailah pengkristenan kepulauan-kepulauan itu. Kita telah mengetahui bahwa sebenarnya perluasan secara pekabaran Injil tidak diizinkan kepada Gereja Protestan pada waktu itu. Hal itu berarti bahwa sebagian besar dari biaya itu harus menjadi beban Gereja Protestan sendiri.
       Pulau Burupun sebagiannya dari "Utrekhtskhe Zendings Vereniging" (UZV) diserahkan kepada Gereja Maluku pada tahun 1933. Usaha pekabaran Injil dipulau itu sudah dimulai pada zaman VOC. Di Kajeli yang letaknya di Buru Utara terdapat segolongan orang Kristen Ambon. Akan tetapi baru sejak tahun 1879 usaha pekabaran Injil diadakan oleh beberapa guru Ambon, yang dipimpin oleh pendeta pembantu di Alang (pulau Ambon). UZV-lah yang mengutus seorang pekabar Injil kedaerah Buru Selatan (Masareta) pada tahun 1885. Para pekabar Injil UZV menjalankan penginjilan dipulau itu sampai saat perang dunia kedua. Sejak 1911 juga daerah Buru Utara (Namlea) dimasuki oleh mereka, dan mulai 1917 dipedalaman (Waekatin). Pada tahun 1934 daerah sebelah utara (Kajeli dll.) diserahkan oleh UZV kepada Gereja Protestan, sedangkan disebabkan oleh perang dunia kedua maka seluruh daerah itu termasuk kedalam wilayah GPM. Selain daripada itu kita mencatat bahwa jemaat-jemaat Ambon dan Lease bersedia menjokong usaha Pekabaran Injil di Irian Barat, bagian Fakfak dan Kaja-kaja (Merauke). Melihat luasnya wilayah yang diliputi oleh Gereja Maluku maka mengertilah kita bahwa tidak ada sebuah Gereja lainpun di Indonesia yang begitu sulit keadaan geografisnya seperti Gereja Maluku itu. Sebenarnya Gereja itu merupakan Gereja kepulauan.
b.          Sejak 1864 secara ber-angsur-angsur organisasi Gereja itu menjadi rampung. Ditetapkanlah bahwa di Ambon selaku pusatnya bertempat dua pendeta Belanda, diantaranya seorang untuk melajani jemaat yang berbahasa Belanda dan yang lain sebagai Ketua Gereja di Maluku. Di-daerah-daerah ditempatkanlah sejumlah pendeta-pendeta pembantu yang menurut peraturan tahun 1867 pekerjaannya diawasi oleh ketua tersebut. Sampai tahun 1935, yaitu terbentuknya Synode yang berdiri sendiri, maka sejumlah yang kecil berhak sedemikian. Hal itu berarti bahwa guru-guru Injil tersebut tinggal tetap didalam tingkat bawahan terhadap para pendeta pembantu. Pendidikan mereka direncana pada permulaan seperti pendidikan yang diperoleh mereka dalam rumah-rumah pendeta pembantu masing-masing. Kemudian pendidikan itu dipersatukan didalam sebuah sekolah guru Injil yang disebut STOVIL (Skhool tot opleiding van Inlandse leeraren). Sekolah guru Injil yang pertama didirikan di Ambon pada tahun 1885, kemudian juga di Tomohon (1886) dan dipulau Roti (1902). Guru-guru Injil tersebut diangkat menjadi pegawai pemerintah seperti juga para pendeta dan para pendeta pembantu. Tetapi tingkat-tingkat yang lebih rendah dibawahnya berlainan dalam hal itu. Guru-guru jemaat yang melajani jemaat-jemaat yang kecil tidak dibiayai oleh pemerintah tetapi oleh jemaat atau Gereja sendiri. Akhirnya kita melihat didalam Gereja tingkat penatua sjamas. Belumlah ada tataGereja yang menetapkan tingkat dan kewajiban mereka itu. Baru pada tahun 1935 waktu mana GPM menetapkan tata Gerejanya maka segala sesuatupun diaturlah serta ditetapkan.
3.   Dari 1935 sampai sekarang ini
a.           Pada tanggal 6 September 1935 Gereja Malukupun berdiri sendirilah. namanya disebut Gereja Protestan Maluku (GPM), Tata Gerejanya disahkan pada tahun 1936. Selain daripada itu kita melihat beberapa gejala dari sebuah Gereja menurut tata presbyterial-synodal.
        Daerah-daerah Gereja di-bagi-bagi menurut kedewasaan mereka masing-masing. Ditetapkanlah tiga bagian: (a) Klasis-klasis yang berhak penuh, oleh karena jemaatnya masing-masing sudah berdiri tetap dengan mempunyai majelis-majelisnya yang dipilih, dll. (b) "Bagian-bagian" Gereja (yang disebut "afdeling") yang belum mempunyai hak penuh daripada klasis-klasis tersebut, oleh karena jemaat-jemaat disitu masih muda serta majelisnya masing-masing belum berjalan sebagaimana mestinya. ( ) "Bidang" (yang disebut "terrein"), ialah lapangan-lapangan usaha pekabaran Injil, yang sebenarnya belum membentuk jemaat serta yang berhak membentuk synode, sedangkan "bagian-bagian" tersebut diwakili oleh pendeta pembantu yang ditempatkan disitu. Akan tetapi "bidang-bidang" tidak mempunyai suara didalam synode. Terbentuklah 7 klasis yaitu Ambon, Lease, Seram Barat, Seram Timur, Banda, Ternate, termasuk jemaat Ambon-kota dengan tingkat yang istimewa. Jumlah bagian adalah 6, yaitu pulau Aru, pulau Kai, pulau Tanimbar, Babar, Kisar, Irian Barat. Akhirnya "bidang" berjumlah 2, yaitu Irian Barat-Daya dan Buru Utara.
b.           Perkembangan GPM pada perjalanannya untuk berdiri sendiri telah dipercepat oleh keadaan yang ditimbulkan oleh perang dunia kedua. Dengan ditangkapnya para tenaga Belanda, maka para pendeta suku maluku menjalankan pimpinan atas Gereja di Maluku sejak tahun 1942. Memang sesudah perang dunia kedua ketua synode yang berbangsa Belanda ditempatkan lagi oleh Badan Pekerjaan Am Gereja Protestan disitu, sedangkan para pendeta pembantu tidak lagi diperlukan oleh karena para tamatan HTS Jakarta dianggap sama derajatnya dengan mereka. Sejak tahun 1949 tidak ada lagi seorang pendeta Belanda yang duduk dalam pimpinan GPM.
4.           Corak GPM
        Keistimewaan Ambon yaitu pakaian-pakaian yang dipakai oleh orang-orang Ambon didalam kebaktian-kebaktian. Musik Gerejani merupakan pula suatu keistimewaan. Biasanya di-negeri-negeri Ambon dan Lease nyanjian-nyanjian jemaat diiringi orkes suling, Orkes-orkes suling itu telah didirikan atas usul Kam dan memang GPM patut berterima kasih kepadanya oleh sebab usul yang sangat bermanfaat itu.
        Termasuk pula tradisi Ambon ialah penghargaan orang-orang Ambon atas Alkitab terjemahan Leydekker. Meskipun sudah lama terjemahan itu diganti dengan terjemahan Klinkert dan Bode, namun terjemahan Leydekker masih berlaku seperti suatu pusaka.
Mazmur dan Tahlil pun berlaku didalam kebaktian-kebaktian, sedangkan didalam ibadat-ibadat dirumah buku-buku nyanjian "Dua sahabat lama" sangat disukai oleh orang-orang Kristen Ambon.
Tradisi memang memainkan peranan yang luar biasa didalam keGerejaan Ambon. Kebiasaan-kebiasaan dianggap oleh mereka itu seperti anasir-anasir kekristenan yang hakiki. Terjadilah suatu corak keGerejaan demikian rupa, sehingga boleh dikatakan bahwa kekristenan sudah

Gereja Masehi Injil Halmahera

GMIH berdiri sebagai buah misi Utrekh Zendings Verenigeeng (UZV) dari Belanda, seperti Hendrijk van Dijken yang berkerja di Halmahera sejak tahun 1816. Persekutuan orang percaya ini kemudian mengorganisasi diri menyadi GMIH pada 6 Juni 1949 dalam Sidang Proto Sinode yang bertempat di Tobelo.

Gereja Kristen Injil di Irian
1852, 7 Oktober
Para Penginjil dari Badan Misi Gossner Jerman yakni Johann Geissler, Skhneider dan Carl Ottow tiba di Batavia (Jakarta)
1855, 5 Februari.
Ottow dan Geissler tiba di Mansinam.
1956
Rumah Misi pertama didirikan di Mansinam
1861
Penerbitan Buku Nyanyian gerejani pertama yang di terjemahkan dalam bahasa Numfoor.
1962, 9 November
Ottow meninggal
1867, 1 Desember
Peresmian Gedung Gereja Pengharapan di Mansinam .
1865, 1 Januari
Dua orang wanita (Sara dan Margaretha) yang biasa membantu di rumah Geissler menyadi orang Papua pertama yang dibaptis.
1969, 16 Agustus
Geissler meninggalkan Mansinam kembali ke Jerman.
1970, 11 Juni
Geissler meninggal dunia dalam usai 40 tahun.
1956,  26 Oktober,
GKI di Tanah Papua berdiri.




Wednesday, June 19, 2019

SIFAT-SIFAT ALKITAB


ALKITAB
Alkitab berotoritas mutlak dan merupakan satu-satunya standar untuk mengevaluasi serta memahami segala sesuatu (2 Timotius 3:16-17). Alkitab berdiri sebagai hakim dari segala sesuatu dan tidak pernah dihakimi oleh sumber lain apa pun. Mengapa demikian? Jawabannya, karena Alkitab merupakan firman Allah, maka tidak mungkin ada otoritas lain yang lebih tinggi dari itu. Secara sederhana dapat ditegaskan bahwa Alkitab harus dipercaya dan diikuti karena Alkitab merupakan firman Tuhan yang mutlak atau benar. Alkitab adalah satu-satunya otoritas di dalam setiap bidang kehidupan. Berikut ini fakta-fakta mengenai keautentikan wahyu Allah.
A. Kewibawaan (Authority)
            Seluruh Alkitab adalah firman Allah; tidak memercayai atau menaati Alkitab berarti tidak percaya atau tidak taat kepada Allah. Dengan kata lain, Alkitab memegang otoritas tertinggi dan terakhir terhadap iman dan kehidupan orang percaya karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri.
1. Bukti-Bukti Kewibawaan Alkitab
            Pada banyak bagian dalam Alkitab dikatakan, "Demikianlah firman Tuhan...." Bentuk kalimat ini dalam Perjanjian Lama identik dengan bentuk kalimat, "Demikian kata Raja...." yang berarti suatu titah yang datang dari pemilik kekuasaan/otoritas tertinggi (raja) dan tidak dapat diganggu gugat, harus dilakukan dan dilaksanakan (misalnya: Bilangan 22:38; Ulangan 18:18-20; Yeremia 1:9). Dalam Perjanjian Baru, ada beberapa ayat yang jelas sekali menunjukkan bahwa tulisan dalam Perjanjian Lama adalah firman Allah (misalnya: 1 Timotius 3:16; 2 Petrus 1:21). Dalam Perjanjian Baru juga terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tulisan dalam Perjanjian Baru adalah firman Allah (misalnya: 2 Petrus 3:16; 1 Timotius 5:18; 1 Korintus 14:37; Yohanes 14:26; 16:13).
2. Penerimaan Terhadap Kewibawaan (Otoritas) Alkitab
            Penerimaan orang percaya terhadap Alkitab sebagai firman Allah adalah dari keyakinan, yang diberikan oleh Roh Kudus, di dalam hati manusia yang sudah diperbarui. Dengan demikian, penerimaan akan kewibawaan (otoritas) Alkitab dalam kehidupan orang percaya adalah karena iman, bukan datang dari manusia itu sendiri (bdk. 1 Korintus 2:13-14; Yohanes 10:27).

B. Ineransi (Ketidakbersalahan Alkitab)

1. Pengertian/Definisi
            Secara umum, "ineransi" diartikan bahwa Alkitab (PL dan PB) adalah seluruhnya firman Allah yang ditulis tanpa kesalahan pada naskah aslinya. Istilah "ineransi" sering kali dicampuradukkan dengan istilah "Infalabiliti", yang memiliki arti bahwa Alkitab tidak mungkin menyesatkan karena semua ajarannya adalah kebenaran (tidak melawan ajaran moral). Sedangkan, penekanan "ineransi" adalah kualitas bebas kesalahan tulisan dan data yang ada di dalam Alkitab. Doktrin tentang ketidakbersalahan Alkitab sangat penting sebab akan memengaruhi doktrin yang lain dan etika Kristen. Misalnya, dalam hal doktrin tentang dosa, penciptaan, Allah, mukjizat, dan keselamatan. Pandangan tentang ineransi Alkitab juga akan menentukan pandangan seseorang tentang etika, perkawinan, dsb..
2. Pentingnya Ineransi
            Sangat penting bagi orang Kristen untuk memegang kepercayaan bahwa Alkitab seluruhnya adalah tidak salah karena Alkitab adalah firman yang datang dari Allah sendiri, yang adalah sempurna dan tidak berdusta. Jika kita tidak memercayai ketidakbersalahan Alkitab, maka kewibawaan Alkitab pun sulit dipertahankan karena berarti kita tidak dapat sepenuhnya memercayai Allah.
3. Dasar Penerimaan Ineransi
Penerimaan "ineransi" bukan berdasarkan pada kemampuan manusia dalam menilai Alkitab, namun berdasarkan keyakinan bahwa:
a. Allah adalah kebenaran. Oleh karena itu, segala sesuatu yang difirmankan Allah adalah benar.
b. Allah tidak pernah berdusta. Jadi, apa yang dikatakan-Nya pasti benar. (Ibrani 6:18; 2 Timotius 2:13).
c. Alkitab sendiri menyebut diri-Nya sempurna (Mazmur 19:8), murni (Mazmur 19:9), tepat (Mazmur 19:9), benar (Mazmur 119:43), dan kekal (Mazmur 119:89; Matius 24:34).
d. Roh Kudus memberikan pengawasan penuh kepada para penulisnya, sehingga mereka menuliskannya dengan benar, tanpa kesalahan.
e. Ukuran kebenaran Alkitab adalah "arasional". Akal manusia bukanlah standar ukuran yang dipakai.
4. Bagaimana Jika Naskah Asli Alkitab Sudah Tidak Ada?
            Memang diakui bahwa kita sudah tidak lagi memiliki naskah asli Alkitab. Yang ada hanyalah salinan aslinya. Penyataan asli tertulis memiliki tiga kategori.
a. Penyataan asli (bukan salinan) yang telah selesai ditulis seluruhnya.
b. Penyataan salinan yang ditulis kembali sesuai dengan aslinya (disebut salinan asli).
c. Alkitab, secara kanon, merupakan kesatuan organisasi yang tidak dapat diambil dari konteks keseluruhan isi kitab.
5. Teori Ineransi
            Ada beberapa macam teori "ineransi" yang diajukan.
a. Ineransi Penuh (Full Inerancy)
            Alkitab bukanlah kitab ilmiah atau pun sejarah. Oleh karena itu, tidak dituntut ketepatan yang empiris. Dengan mengerti konteks dan latar belakang budaya kemungkinan besar ketidaktepatan belum tentu suatu kesalahan.
b. Ineransi Mutlak (Absulute Inerancy)
            Semua data di dalam Alkitab adalah benar, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran ilmiah dan sejarah. Kebenaran Alkitab seharusnya juga dapat dibuktikan dari semua sudut termasuk ilmiah dan sejarah.
c. Ineransi Terbatas (Limited Inerancy)
            Kebenaran Alkitab dapat dibuktikan hanya dari segi doktrinnya yang berhubungan dengan keselamatan. Jika ada kesalahan data yang lain, tidak apa-apa karena itu tidak menjadi kepentingan Alkitab.
d. Pandangan Reformator
            Pandangan "ineransi" Alkitab tidak dapat dipisahkan dengan inspirasi. Jika firman Allah diberikan oleh Allah, maka itu tidak mungkin tunduk pada kekeliruan manusia. Memang diakui ada masalah-masalah dalam Alkitab yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan, tetapi hal itu belum cukup membuktikan bahwa Alkitab bersalah. Kebenaran ini mencakup ajaran (doktrin), pola hidup (etika), atau pun peristiwa-peristiwa yang terjadi (sejarah).
Dengan demikian, kita memercayai ineransi Alkitab karena Alkitab diilhamkan oleh Allah yang sempurna. Kesempurnaan Allah atau sifat-sifat Allah menjamin bahwa kata-kata Alkitab tidak mengandung kesalahan dan sempurna di dalam autografnya.
e. Bagaimana dengan Bagian-bagian Alkitab yang Dipermasalahkan?
            Dalam hal Alkitab yang "ineransi", kaum Injili berpegang pada suatu "komitmen teologi", yaitu kepercayaan terhadap keyakinan iman yang dipegang sebagai ketaatan kepada pribadi dan ajaran Alkitab. Kepercayaan ini tidak dibangun secara empiris (berdasar pengalaman) juga bukan sebagai hasil penelitian dari naskah asli. Oleh karena itu, setiap kesulitan yang ditemui harus diteliti dan dipelajari dengan tunduk pada otoritas Allah.

Jawaban atas bagian-bagian Alkitab yang masih sering dipermasalahkan.
6. Satu peristiwa tidak harus selalu diceritakan dengan istilah/cerita yang sama oleh dua penulis yang berbeda (contoh: Lukas 6:17; Matius 5:1).
7. Kutipan kata tidak harus sama persis, yang penting kebenarannya (contoh: Hal tentang kesaksian Paulus dari Kisah Para Rasul 9:7; 22:9).
8. Istilah teknis ilmiah tidak dikenal pada zaman/budaya/waktu itu
(contoh: Matius 5:1 dengan Lukas 6:17: Markus 10:45 dengan Lukas 18:35).
9. Tidak setiap perbedaan berarti kesalahan. Masalah yang belum terjawab tidak harus diartikan kesalahan (contoh: - pembulatan perhitungan hari, jam, dll.).
Kisah kematian Yudas dari Matius 27:5 dan Kisah Para Rasul 1:18.
10. Periode penyataan tidak semuanya sama, tergantung konteksnya.
11. Hal berikut ini juga perlu diingat.
Kebiasaan/budaya Timur (Yahudi dan Palestina) tidak sama dengan budaya sekarang.
Tidak menentang, maka tidak berarti salah. (blm jelas maksudnya)



Pengertian/Definisi
            Kejelasan Alkitab diartikan bahwa Alkitab ditulis sedemikian rupa sehingga jelas maksud pemberitaan dan pengajarannya, sehingga dapat dimengerti oleh setiap orang yang sungguh-sungguh membaca dan mencari pertolongan Tuhan serta bersedia melakukan firman Tuhan itu. Namun demikian, tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab akan dapat dimengerti dengan mudah. Tidak juga berarti bahwa setiap orang akan mengertinya dengan benar. Tetapi benar bahwa untuk mengerti isi Alkitab dengan benar seseorang harus memiliki persyaratan moral dan rohani tertentu (1 Korintus 2:14). Juga, ada kemungkinan bahwa seseorang dapat mengerti satu bagian Alkitab dengan lebih jelas daripada orang lain (2 Petrus 3:16).
Kesulitan manusia untuk mengerti/menafsirkan isi Alkitab seringkali dikarenakan pikiran manusia yang dibutakan oleh dosa, bukan karena kemampuan intelektual mereka. (1 Korintus 1:18-3:4; Ibrani 5:14; 2 Petrus 3:5).
Bagaimana kita bisa mengerti atau menafsirkan isi Alkitab secara jelas, benar, dan tepat?
. Hanya dalam terang Roh Kudus-lah manusia dapat mengerti firman Tuhan dengan benar dan tepat (Efesus 3:4, 5; 1 Korintus 2:12, 13; Yohanes 14:26; 16:13-15; 2 Petrus 1:21).
a. Memunyai motivasi yang benar, tidak untuk kesombongan, keserakahan, kepentingan diri sendiri, dan tidak kurang iman (tidak percaya) (Lukas 24:25; 2 Korintus 4:3-4).
b. Memunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menafsirkan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip menafsirkan yang sehat dan mengembangkannya sebagai keterampilan, maka kita akan dapat menafsirkan dengan baik. Sarana-sarana untuk penafsirkan juga sangat berpengaruh dalam mendapatkan data yang lengkap.
Keharusan (Necessity)
Pengertian/Definisi
Keharusan Alkitab berarti bahwa Alkitab benar-benar diperlukan secara mutlak untuk mengenal Kristus supaya kita dapat diselamatkan. Hanya Alkitablah yang memberitakan kebenaran Kabar Baik tentang Kristus (Roma 1:16). Penekanannya bukan pada keperluan untuk mengenal sifat-sifat umum Allah, melainkan secara khusus untuk memelihara kehidupan rohani dan untuk mengetahui kehendak Allah.
Bukti-Bukti Keperluan Mutlak Alkitab
Roma 10:13-17: Agar manusia dapat diselamatkan, mereka harus mendengar firman Injil Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 4:12: Tidak ada keselamatan di luar Kristus. 1 Timotius 2:5-6: Tidak ada Pengantara lain selain Yesus Kristus untuk menjadi Pendamai antara manusia dengan Allah.
Kesimpulan: karena Alkitab adalah satu-satunya sumber untuk mengenal Kristus; Injil yang memunyai kuasa untuk menyelamatkan, maka manusia harus membaca Alkitab atau mendengar dari orang lain, firman yang ada di dalam Alkitab.
Kecukupan (Sufficiency)
Pengertian/Definisi
Kecukupan Alkitab memiliki arti bahwa Alkitab berisi semua firman Allah yang dibutuhkan oleh orang percaya untuk keselamatannya dan untuk hidup di dalam keselamatannya, sehingga tidak diperlukan lagi tambahan "penyataan" lain di luar Alkitab. Dengan demikian, kita percaya bahwa Alkitab adalah cukup sebagai satu-satunya sumber firman Allah yang diperlukan oleh manusia untuk selamat dan hidup dalam keselamatannya.
Bukti-Bukti Kecukupan Alkitab di Dalam Alkitab
Beberapa ayat di bawah ini menyatakan berbagai bukti kecukupan Alkitab.
. 2 Timotius 3:15-17
a. Yakobus 1:18
b. 1 Petrus 1:23
c. Wahyu 22:18,19
Tidak Pernah Gagal dalam Maksudnya (Efficacy)
Pengertian/Definisi
Maksud dan tujuan Alkitab adalah memberikan berita tentang Allah dan rencana keselamatan-Nya kepada manusia. Dalam menyampaikan beritanya ini, Alkitab tidak pernah gagal mencapai maksudnya, baik untuk orang yang menerima keselamatan ataupun untuk mereka yang menolak. Untuk orang yang diselamatkan, firman Allah memberikan damai sejahtera dan hidup yang kekal, untuk orang yang menolak firman-Nya, Allah menyatakan keadilan-Nya dengan menghukum mereka ke dalam nyala api selama-lamanya.
Bukti-Bukti di Dalam Alkitab
Yesaya 55:11: Firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia.
Kesatuan (Unity)
Pengertian/Definisi
Alkitab memunyai satu kesatuan isi dan berita, yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Alkitab adalah "Unik"
Kesatuan Alkitab menunjukkan bahwa Alkitab berbeda dari kitab-kitab yang lain, sangat unik. Mengapa? Berikut ini adalah daftar yang membuktikan bahwa Alkitab itu sangat unik.
. Satu-satunya kitab yang ditulis dalam jangka waktu 1600 tahun dan melibatkan kisah dari 60 generasi.
a. Ditulis oleh kurang lebih 40 penulis dari berbagai kalangan (raja, nabi, nelayan, penulis puisi, orang kaya, petani, ahli filsafat, negarawan, ahli politik, gembala, militer, dokter, dsb.).
b. Ditulis di tempat-tempat yang berbeda (di penjara, di padang belantara, di bukit, di istana, di pulau terpencil, dsb.).
c. Ditulis dalam zaman, waktu, tempat (tiga benua), dan keadaan yang berbeda-beda.
d. Ditulis dalam tiga macam bahasa (Ibrani, Aramic, Yunani).
e. Buku yang paling jujur menceritakan semua kebaikan dan kejelekan sifat manusia.
f. Buku yang berisi nubuatan dan yang kebenaran nubuatannya sudah terbukti.
g. Alkitab juga adalah buku yang dapat bertahan melalui waktu, penganiayaan, kritikan, pengrusakan, dll..
h. Alkitab adalah buku pertama yang diterjemahkan berulang-ulang, dalam jumlah bahasa yang terbanyak, dan sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia.




KESIMPULAN
Alkitab adalah perkataan Allah, atau buah pikiran Allah yang dituangkan dalam tulisan untuk dibaca dan melaksanakan apa yang ditentukan dalam Alkitab. Jadi Alkitab  yang harus menjadi tolak ukur dalam setiap hidup orang percaya.