Permulaan Gereja Pada Zaman Portugis
Permulaan abad 16
merupakan waktu peralihan dalam segala segi. Ciri khas keadaan di Indonesia pada abad ke-15 dan ke-16 adalah
perubahan-perubahan yang besar di bidang politik kerajaan majapahit yang dalam
puncak kebesarannya telah menanam pengaruhnya hingga melewati batas-batas
wilayah Indonesia sekarang
Injil sejak abad
pertama memasuki Asia. Gereja Mar-Thoma di india selatan mengatakan bahwa
terjadinya gereja itu ialah karena pemberitaan injil oleh rasul Thomas.
Gereja
di Indonesia pada zaman VOC 1605-1799
Pemerintah
VOC dan Gereja Kristen.
Perubahan yang
hebat di politik dan ekonomi pada abad ke-17 telah menentukan untuk
berabad-abad lamanya arah yang akan ditempuh oleh perahu Gereja Kristus di
Indonesia. Belanda mengubah kekristenan pada waktu itu. Jika masa pemerintahan
Portugis Gereja Indonesia merupakan sebagian dari Gereja RK sedunia, maka
Belanda datang dan mengubahnya menyadi Gereja kalvinis.
Keadaan Gereja
¢ Kedudukan
serta lapangan pekerjaan tenaga-tenaga ini dibagi serta ditentukan menerut
kebijaksanaan gubernur.
¢ Dilapangan
usaha pekabaran injil maka gereja protestan sedikit sekali menunjukan
kegiatan-kegiatan serta rasa tanggung jawab, salah satu sebabnya ialah taraf
rohani Gereja yang amat rendah.
Gereja
Protestan
Indonesia “Indiskhe Kerk” sebagai
pengganti Gereja VOC
Masa ini terjadi peralihan dari masa VOC ke masa Inggris.
Satu-satunya perubahan adalah kebebasan
agama yang di umumkan menggantikan kedudukan Monopoli dari gereja VOC. Hingga kemudian diijinkannya membangun gereja
di samping gereja VOC yang kemudian memperkerjakan padri-padri ,tetapi hal itu
di bawah ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti halnya gereja Protestan.
¢ Kemudian Inggris mengutus
seorang penginjil pertama yaitu
NZG. Dan terjadi penyebaran agama oleh penginjil-penginjil. Perkembangan rohani
ketika itu mulai nampak di gereja Protestan.
¢ Kemudian gereja sekarang dijadikan sebagai suatu jabatan
di pemerintahan karena dari pemerintah telah dimungkinkan untuk mengorganisir
kegiatan rohani dari umat kristen Protestan dari bangsa Eropa maupun Indonesia
itu sendiri
Gereja Protestan di Indonesia Timur
¢ Penetapan raja dan
tata gerja tahun 1844 untuk GPI, orang kristen di Indonesia timur yang banyak
jumlahnya tidak disebut. Muncullah
nedherlands zendelingenootskhap (NZG).
¢ Tetepi
terjadi perdebatan antara NZG dengan pemerintah pada tahun 1854 yang memperdebatkan
tentang gaji orang orang NZG yang kecil.
Gereja Protestan Sejak Tahun
Pemisahannya dari Negara
¢ Pada
tahun 1935, sejak pemisahannya dari negara, GPI semakin berkembang. Dan pada
tahun 1936 dan 1939 muncullah synode yang membicarakan mengenai peraturan hidup
gereja dan usaha pekabaran injil.
¢ Atas
permintaan golongan Protestan Indonesia, hubungan gereja tetap dipertahankan
tanpa mempedulikan perbedaan-perbedaan bahasa dan bangsa dengan dibentuknya
seksi –seksi untuk kedua golongan bahasa yang bisa mewujudkan “keesaan gereja”.
Gereja-gereja di
Maluku dan Irian Barat
Gereja Protestan Maluku
1.
Sejarah GPM sampai
1864
a.
GPM mempunyai sejarah yang paling lama
di Indonesia. Sejarahnya itu dapat kita bagi sebagai berikut:
±
1540-1605
|
Usaha
Misi RK Portugis serta pengkristenan yang pertama
|
±
1605-1815
|
Gereja
di Maluku dibawah pemeliharaan Gereja VOC sampai 1800 - dan dyangka pendek yang
berikutnya dibawah pemeliharaan Pekabaran Injil dari pihak Inggris (1814-
1817).
|
±
1815-1864
|
Hidupnya
kembali Gereja di Maluku oleh usaha Pekabaran Injil NZG dalam kerjasama
dengan Gereja Protestan.
|
±
1864-1935
|
Gereja
di Maluku dibawah pimpinan Gereja Protestan serta perkembangan Gereja itu.
|
b.
Sejak 1935 GPM selaku
Gereja yang berdiri sendiri.
Sejak tahun 1801 hampir tidak terdapat
seorang pendeta Belanda di Ambon sampai tibanya J. Kam pada tahun 1816. Hanya
pada tahun 1808 untuk dua bulan lamanya dilakukan pemeliharaan rohani oleh
pendeta van den Broek, yang meninggal disitu tidak berapa lama kemudian.
Demikian merosotnya kekristenan pada waktu itu sehingga pada tahun 1809 gedung
Gereja Ambon pun mau dijadikan sebuah gudang. Keadaan yang sangat menyedihkan
itu berlaku juga di-jemaat-jemaat yang lain. Di Saparua misalnya terdapat
lowongan pendeta sejak tahun 1801 dan baru pada tahun 1807 dan 1809 terjadilah
kunjungan pendeta sejak tahun 1796 sampai 1819, Banda dari 1800 sampai 1820.
Memang ada beberapa guru sekolah yang memimpin kebaktian-kebaktian dengan membacakan
khotbah-khotbah serta doa-doa menurut kebiasaan Gereja VOC.
c.
Pada waktu pemerintahan Inggris yang
pendek itu (1811-1815) masuklah para pekabar Injil Inggris yang pertama di
Indonesia. Juga ke Ambon diutus seorang, yaitu Jabez Carey, anak William Carey,
perintis pekabaran Injil yang ternama di India. Pergaulannya dengan orang-orang
Ambon demikian baiknya sehingga dengan sangat sedih hati disertai tangisan
mereka berpisah dari padanya ketika ia terpaksa meninggalkan Ambon pada tahun
1817.
d.
Akan tetapi pada tahun 1816 tibalah
seorang pekabar Injil yaitu J. Kam yang kemudian mendapat gelar "Rasul
Maluku", Sesudah pendidikannya beberapa tahun lamanya iapun diutus ke
Indonesia ber-sama-sama dengan dua orang pekabar Injil dari Jerman, yaitu Supper
dan Bruckner, pada tahun 1814. Berhubung dengan keadaan politik pada waktu itu
maka mereka diutus dengan perantaraan "Perhimpunan Pekabaran Injil dari
London". Baru pada tahun 1815 tibalah mereka di Jakarta. Disitu ketiga
orang ini "disita" oleh Gereja Protestan yang pada waktu itu amat
kekurangan tenaga-tenaga. Kam ditempatkan di Ambon untuk memelihara Gereja
didaerah itu. Pada tahun 1816 tibalah ia di Ambon. Ketika ia melalui Surabaja
ia menghidupkan disitu segolongan orang-orang Kristen yang mempunyai arti bagi
permulaan Gereja Jawa Timur dikemudian hari.
e.
Ada kesulitan sedikit dalam bentuk
pekerjaan Gerejani di Indonesia Timur pada waktu itu. Pada satu pihak hampir
segala pekerjaan itu dilakukan oleh para pekabar Injil NZG. Pun NZG memberi banyak
sokongan secara materi, misalnya buku-buku dsb-nya, bagi usaha itu. Pada pihak
lain Gereja Protestanlah yang memelihara Gereja Kristen di Indonesia Timur. Gereja
itu menempatkan Kam di Ambon serta memberikan hak kepadanya untuk memimpin
pekerjaan Gerejani di wilayah itu. Gerejalah pula yang membiayai para pekabar Injil,
andaikata mereka dipinjamkan oleh NZG kepadanya. Lambat laun Gereja ingin
menempatkan pendeta-pendetanya sendiri disitu. Sejak tahun 1835 sejumlah
pendeta Belanda dipindahkan ke Ambon untuk melakukan usaha-usaha Gerejani
disitu akan tetapi diantara mereka itu tidak terdapat lagi seorang seperti Kam.
Sama seperti pada waktu VOC maka mereka lebih memperhatikan jemaat Belanda
daripada orang-orang Kristen Ambon, yang ribuan jumlahnya itu. Memang tidak ada
sedikitpun pergaulan dengan masyarakat, ter-lebih-lebih oleh karena seorang
demi seorang mereka meninggal di Ambon dalam waktu yang singkat. Lagi pula
masih ada beberapa pekabar Injil NZG disitu yang mengerjakan jemaat-jemaat di
Ambon dan dikepulauan Lease. Mereka berusaha melakukan pekerjaannya baik secara
rohani maupun secara materiil. Salah satu usaha yang sangat bermanfaat ialah
sekolah guru yang didirikan oleh Roskott pada tahun 1836 di Batu Merah, letaknya
diteluk Ambon. Roskott bermaksud mendidik guru-guru untuk sekolah-sekolah
Kristen yang disamping itu dapat memimpin jemaat-jemaat kecil. Makin lama makin
banyak hasil sekolah guru itu untuk seluruh kepulauan Maluku. Kira-kira 100
guru dihasilkannya untuk 80 sekolah rakyat. Bahkan pemerintah menghargai pekerjaan
Roskott demikian rupa, sehingga ia diangkat menjadi Inspektur sekolah-sekolah
pada tahun 1851.
2.
Dari 1864 sampai 1935
a.
Dengan terhentinya kerjasama NZG dan Gereja
Protestan maka berkembanglah organisasi Gereja Protestan diseluruh daerah itu.
Makin lama makin tegaslah batas-batas daerah yang diliputi oleh Gereja Maluku,
daerah-daerah Gereja Minahasa dan Timor kemudiannya. Hanyalah mengenai
kepulauan dibarat daja, yaitu Leti, Moa, Kisar, Wetar belum ada keputusan,
apakah itu termasuk daerah Maluku atau daerah Timor. Baru pada tahun 1936
ditetapkan oleh karena perhubungan yang lebih lancar bahwa pulau-pulau itu
terikat didalam Gereja Maluku. Jemaat-Jemaat Gereja itu terletak terutama
dipulau Ambon bagian Laitimur, sedangkan bagian Hitu sudah diislamkan sebelum
zaman VOC. Jemaat-jemaat yang lain terdapat pula dikepulauan Lease ialah
Haruku, Nusalaut dan Saparua. Disebelah Utara termasuk pula Ternate, yang
diduduki oleh seorang pendeta pembantu yang mengawasi jemaat-jemaat Bacan dan
Tidore. Dipulau Seram ada juga dua jemaat, di Amahai dan di Kamarian (Piru). Juga
dipulau Buru bagian utara terdapat jemaat Kajeli yang termasuk Gereja Maluku
pada waktu itu. Akhirnya harus dicatat pula jemaat yang ada di Bandaneira. Pada
akhir abad ke-19 menjadi lebih luaslah daerah Gereja Maluku. Ber-angsur-angsur
beberapa kepulauan sebelah tenggara dan selatan dikerjakan untuk pertama kali.
Mengherankan bahwa suatu Gereja yang paling tua, yang sudah bersejarah
ber-abad-abad lamanya, tidak sanggup untuk melakukan pekabaran Injil didaerahnya
sendiri. Memang kira-kira pada tahun 1635 pulau-pulau Aru dikunjungi oleh
seorang pendeta VOC, juga dapat diduga bahwa dikepulauan Tanimbar terdapat
sisa-sisa kekristenan dari zaman VOC. Akan tetapi orang-orang Kristen disitu
diabaikan saja, sehingga Kam yang mengunjungi kepulauan itu kira-kira pada
tahun 1819 tidak menemukan seorang Kristen lagi disitu. Usaha pekabaran Injil yang
mulai pada akhir abad itu disebabkan oleh dua alasan, pertama bahwa baru pada
bagian kedua abad ke-19 pemerintah memberikan perhatian kepada kepulauan itu.
Hal itu berhubung dengan perobahan politiknya diseluruh wilayah Indonesia. Dan
memang, bilamana pemerintah membuka tanah, maka Gerejapun lantas mengikutinya.
Alasan kedua jakni perhatian yang dicurahkan oleh pihak RK kepada kepulauan
tersebut mulai tahun 1880. Sesudah RK mengusahakan misi disitu, barulah Gereja
Protestan bertindak juga. Pulau Tanimbar misalnya sudah dikunjungi oleh Kam
pada tahun 1825, tetapi baru pada tahun 1882 pekerjaan dapat dimulai disitu.
Demikian pula halnya dipulau Kai, tempat markas RK memulai pada tahun 1890
sedangkan Gereja Protestan memulai usahanya pada tahun 1900. Pada bagian
pertama abad ini hampir selesailah pengkristenan kepulauan-kepulauan itu. Kita
telah mengetahui bahwa sebenarnya perluasan secara pekabaran Injil tidak
diizinkan kepada Gereja Protestan pada waktu itu. Hal itu berarti bahwa
sebagian besar dari biaya itu harus menjadi beban Gereja Protestan sendiri.
Pulau Burupun sebagiannya dari
"Utrekhtskhe Zendings Vereniging" (UZV) diserahkan kepada Gereja
Maluku pada tahun 1933. Usaha pekabaran Injil dipulau itu sudah dimulai pada
zaman VOC. Di Kajeli yang letaknya di Buru Utara terdapat segolongan orang
Kristen Ambon. Akan tetapi baru sejak tahun 1879 usaha pekabaran Injil diadakan
oleh beberapa guru Ambon, yang dipimpin oleh pendeta pembantu di Alang (pulau
Ambon). UZV-lah yang mengutus seorang pekabar Injil kedaerah Buru Selatan
(Masareta) pada tahun 1885. Para pekabar Injil UZV menjalankan penginjilan
dipulau itu sampai saat perang dunia kedua. Sejak 1911 juga daerah Buru Utara
(Namlea) dimasuki oleh mereka, dan mulai 1917 dipedalaman (Waekatin). Pada
tahun 1934 daerah sebelah utara (Kajeli dll.) diserahkan oleh UZV kepada Gereja
Protestan, sedangkan disebabkan oleh perang dunia kedua maka seluruh daerah itu
termasuk kedalam wilayah GPM. Selain daripada itu kita mencatat bahwa jemaat-jemaat
Ambon dan Lease bersedia menjokong usaha Pekabaran Injil di Irian Barat, bagian
Fakfak dan Kaja-kaja (Merauke). Melihat luasnya wilayah yang diliputi oleh Gereja
Maluku maka mengertilah kita bahwa tidak ada sebuah Gereja lainpun di Indonesia
yang begitu sulit keadaan geografisnya seperti Gereja Maluku itu. Sebenarnya Gereja
itu merupakan Gereja kepulauan.
b.
Sejak 1864 secara ber-angsur-angsur
organisasi Gereja itu menjadi rampung. Ditetapkanlah bahwa di Ambon selaku
pusatnya bertempat dua pendeta Belanda, diantaranya seorang untuk melajani jemaat
yang berbahasa Belanda dan yang lain sebagai Ketua Gereja di Maluku.
Di-daerah-daerah ditempatkanlah sejumlah pendeta-pendeta pembantu yang menurut
peraturan tahun 1867 pekerjaannya diawasi oleh ketua tersebut. Sampai tahun 1935,
yaitu terbentuknya Synode yang berdiri sendiri, maka sejumlah yang kecil berhak
sedemikian. Hal itu berarti bahwa guru-guru Injil tersebut tinggal tetap
didalam tingkat bawahan terhadap para pendeta pembantu. Pendidikan mereka direncana
pada permulaan seperti pendidikan yang diperoleh mereka dalam rumah-rumah
pendeta pembantu masing-masing. Kemudian pendidikan itu dipersatukan didalam
sebuah sekolah guru Injil yang disebut STOVIL (Skhool tot opleiding van
Inlandse leeraren). Sekolah guru Injil yang pertama didirikan di Ambon pada
tahun 1885, kemudian juga di Tomohon (1886) dan dipulau Roti (1902). Guru-guru Injil
tersebut diangkat menjadi pegawai pemerintah seperti juga para pendeta dan para
pendeta pembantu. Tetapi tingkat-tingkat yang lebih rendah dibawahnya berlainan
dalam hal itu. Guru-guru jemaat yang melajani jemaat-jemaat yang kecil tidak dibiayai
oleh pemerintah tetapi oleh jemaat atau Gereja sendiri. Akhirnya kita melihat
didalam Gereja tingkat penatua sjamas. Belumlah ada tataGereja yang menetapkan
tingkat dan kewajiban mereka itu. Baru pada tahun 1935 waktu mana GPM
menetapkan tata Gerejanya maka segala sesuatupun diaturlah serta ditetapkan.
3.
Dari 1935 sampai
sekarang ini
a.
Pada tanggal 6 September 1935 Gereja
Malukupun berdiri sendirilah. namanya disebut Gereja Protestan Maluku (GPM),
Tata Gerejanya disahkan pada tahun 1936. Selain daripada itu kita melihat
beberapa gejala dari sebuah Gereja menurut tata presbyterial-synodal.
Daerah-daerah Gereja di-bagi-bagi
menurut kedewasaan mereka masing-masing. Ditetapkanlah tiga bagian: (a)
Klasis-klasis yang berhak penuh, oleh karena jemaatnya masing-masing sudah
berdiri tetap dengan mempunyai majelis-majelisnya yang dipilih, dll. (b)
"Bagian-bagian" Gereja (yang disebut "afdeling") yang belum
mempunyai hak penuh daripada klasis-klasis tersebut, oleh karena jemaat-jemaat
disitu masih muda serta majelisnya masing-masing belum berjalan sebagaimana
mestinya. ( ) "Bidang" (yang disebut "terrein"), ialah
lapangan-lapangan usaha pekabaran Injil, yang sebenarnya belum membentuk jemaat
serta yang berhak membentuk synode, sedangkan "bagian-bagian"
tersebut diwakili oleh pendeta pembantu yang ditempatkan disitu. Akan tetapi
"bidang-bidang" tidak mempunyai suara didalam synode. Terbentuklah 7
klasis yaitu Ambon, Lease, Seram Barat, Seram Timur, Banda, Ternate, termasuk jemaat
Ambon-kota dengan tingkat yang istimewa. Jumlah bagian adalah 6, yaitu pulau
Aru, pulau Kai, pulau Tanimbar, Babar, Kisar, Irian Barat. Akhirnya "bidang"
berjumlah 2, yaitu Irian Barat-Daya dan Buru Utara.
b.
Perkembangan GPM pada perjalanannya
untuk berdiri sendiri telah dipercepat oleh keadaan yang ditimbulkan oleh
perang dunia kedua. Dengan ditangkapnya para tenaga Belanda, maka para pendeta
suku maluku menjalankan pimpinan atas Gereja di Maluku sejak tahun 1942. Memang
sesudah perang dunia kedua ketua synode yang berbangsa Belanda ditempatkan lagi
oleh Badan Pekerjaan Am Gereja Protestan disitu, sedangkan para pendeta
pembantu tidak lagi diperlukan oleh karena para tamatan HTS Jakarta dianggap
sama derajatnya dengan mereka. Sejak tahun 1949 tidak ada lagi seorang pendeta
Belanda yang duduk dalam pimpinan GPM.
4.
Corak GPM
Keistimewaan Ambon yaitu
pakaian-pakaian yang dipakai oleh orang-orang Ambon didalam
kebaktian-kebaktian. Musik Gerejani merupakan pula suatu keistimewaan. Biasanya
di-negeri-negeri Ambon dan Lease nyanjian-nyanjian jemaat diiringi orkes
suling, Orkes-orkes suling itu telah didirikan atas usul Kam dan memang GPM
patut berterima kasih kepadanya oleh sebab usul yang sangat bermanfaat itu.
Termasuk pula tradisi Ambon ialah
penghargaan orang-orang Ambon atas Alkitab terjemahan Leydekker. Meskipun sudah
lama terjemahan itu diganti dengan terjemahan Klinkert dan Bode, namun terjemahan
Leydekker masih berlaku seperti suatu pusaka.
Mazmur dan Tahlil pun berlaku didalam
kebaktian-kebaktian, sedangkan didalam ibadat-ibadat dirumah buku-buku nyanjian
"Dua sahabat lama" sangat disukai oleh orang-orang Kristen Ambon.
Tradisi memang memainkan peranan yang
luar biasa didalam keGerejaan Ambon. Kebiasaan-kebiasaan dianggap oleh mereka
itu seperti anasir-anasir kekristenan yang hakiki. Terjadilah suatu corak keGerejaan
demikian rupa, sehingga boleh dikatakan bahwa kekristenan sudah
Gereja Masehi Injil Halmahera
GMIH berdiri sebagai buah misi Utrekh Zendings Verenigeeng (UZV) dari Belanda, seperti Hendrijk van Dijken yang berkerja di Halmahera sejak tahun 1816. Persekutuan orang percaya ini kemudian mengorganisasi diri menyadi GMIH pada 6 Juni 1949 dalam Sidang Proto Sinode yang bertempat di Tobelo.
Gereja
Kristen Injil di Irian
1852, 7
Oktober
Para Penginjil dari Badan Misi Gossner Jerman yakni Johann Geissler, Skhneider dan Carl Ottow tiba di Batavia (Jakarta)
Para Penginjil dari Badan Misi Gossner Jerman yakni Johann Geissler, Skhneider dan Carl Ottow tiba di Batavia (Jakarta)
1855, 5 Februari.
Ottow dan Geissler tiba di Mansinam.
Ottow dan Geissler tiba di Mansinam.
1956
Rumah Misi pertama didirikan di Mansinam
Rumah Misi pertama didirikan di Mansinam
1861
Penerbitan Buku Nyanyian gerejani pertama yang di terjemahkan dalam bahasa Numfoor.
Penerbitan Buku Nyanyian gerejani pertama yang di terjemahkan dalam bahasa Numfoor.
1962, 9 November
Ottow meninggal
Ottow meninggal
1867,
1 Desember
Peresmian Gedung Gereja Pengharapan di Mansinam .
Peresmian Gedung Gereja Pengharapan di Mansinam .
1865,
1 Januari
Dua orang wanita (Sara dan Margaretha) yang biasa membantu di rumah Geissler menyadi orang Papua pertama yang dibaptis.
Dua orang wanita (Sara dan Margaretha) yang biasa membantu di rumah Geissler menyadi orang Papua pertama yang dibaptis.
1969,
16 Agustus
Geissler meninggalkan Mansinam kembali ke Jerman.
Geissler meninggalkan Mansinam kembali ke Jerman.
1970, 11 Juni
Geissler meninggal dunia dalam usai 40 tahun.
Geissler meninggal dunia dalam usai 40 tahun.
1956, 26
Oktober,
GKI di Tanah Papua berdiri.
GKI di Tanah Papua berdiri.
No comments:
Post a Comment